Penulis: Putri Shafira Anindya Setiyawan
Saya adalah seorang pelajar asal Kabupaten Batang yang sedang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Semarang. Ketertarikan saya di bidang arkeologi bermula dari kasus penemuan Candi Bata Balekambang. Waktu itu saya cukup prihatin dengan kondisi candi yang
Candi Bata Balekambang berjarak 25-35 km dari tempat tinggal saya di Batang. Lokasi candi ini terletak di Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Area situs masuk dalam area Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Terdapat dua jalur yang dapat ditempuh untuk mencapai Candi Bata Balekambang, Jalan Raya Pantura dan Jalan Tol Semarang-Batang. Jika melewati jalur Pantura, waktu yang dibutuhkan berkisar 30-50 menit karena harus melewati jalur yang padat akibat kendaraan angkutan berat dan besar yang berlalu lalang. Namun, jika melewati jalur tol, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 36 menit karena lalu lintasnya yang relatif stabil dan tertib.
Penemuan Candi Bata Balekambang
Melansir dari detik.com, Bupati Batang, Lani Dwi Rejeki, waktu itu mengungkapkan bahwa Candi Bata Balekambang pertama kali ditemukan pada tahun 2019 saat PT Perkebunan Nusantara IX melakukan pembersihan lahan. Mereka menemukan sebuah gundukan tanah yang di atasnya terdapat fragmen bata. Mendengar adanya informasi tersebut, Tim Arkeolog Pusat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) langsung melakukan kajian awal.

Lokasi situs yang berada di kawasan industri, membuat Agustijanto Indradjaja selaku Ketua Tim Arkeolog Pusat Sejarah dan Prasejarah BRIN angkat bicara. Beliau berharap segera dilakukan pembuatan peta kawasan situs. Langkah tersebut merupakan langkah awal dalam menjaga kelestarian situs.
Tidak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Batang terlihat sangat mendukung upaya pelestarian Candi Bata Balekambang. Hal tersebut terbukti dengan adanya bantuan anggaran untuk proses ekskavasi dan kegiatan restorasi yang dilaksanakan pada tahun 2024. Tercatat, total anggaran berjumlah Rp. 230.000.000. Jika dirincikan terdiri dari Rp. 170.000.000 untuk proses ekskavasi dan Rp. 60.000.000 untuk pembuatan cungkup.
Struktur Bangunan Candi
Struktur Candi Bata Balekambang terdiri sebuah struktru tangga yang berada di sisi timur yang diperkirakan merupakan pintu masuk. Namun pada bagian atas candi tersebut tampak sudah rusak dan hanya menyisakan bagian kaki candi dan dinding tangga.

Bambang Suryantoro Sudibyo selaku Ketua Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, menyebutkan bahwa struktur utama area kompleks candi sangatlah luas dengan garis batas yaitu 1,6 x 1,6 km.
Bahan dasar yang digunakan dalam proses pembuatan candi yaitu menggunakan batu bata. Ukurannya beragam, ada yang berukuran 37 x 18 cm dengan ketebalan 7 cm, serta terdapat pula batu bata dengan panjang 60 cm dan ketebalan 25 cm. Saat itu, kondisi struktur candi sebagian besar telah hancur  sehingga menyulitkan untuk mengetahui pola ukuran dari setiap batuan penyusnnya.

Bagian paling menonjol dari Candi Bata Balekambang adalah profil alas yang terdiri dari alas tinggi dengan desain kumuda (halfround) di atasnya. Profil ini tak pernah ada di Jawa Tengah, sehingga diduga bahwa Candi Bata Balekambang memiliki kemiripan profil dengan Candi Jiwa di Jawa Barat.
Potensi Candi Tertua di Jawa Tengah
Untuk mengetahui umur absolut suatu peninggalan sejarah, para ahli menggunakan metode pertanggalan carbondating C-14. Prinsip kerja carbondating C-14 yaitu dengan mengukur sisa-sisa radioaktif yang terdapat pada sampel arang. Menurut saya, metode ini sangat istimewa karena mengingatkan saya tentang kehebatan suatu radioaktif yang masih memiliki jejak walau sudah ditinggal berabad-abad. Hal ini dapat dijadikan pengingat untuk menjalani hidup dengan bijak karena segala sesuatu yang pernah ada di dunia pasti meninggalkan jejak.
Dalam kasus Candi Bata Balekambang, analisis carbon dating C-14 dilakukan sebanyak dua kali pada dua tempat yang berbeda. Mereka melakukan pengujian di laboratorium Beta Analytic (Amerika Serikat) dan laboratorium Waikato University (Selandia Baru). Analisis ini dilakukan dengan mengirim temuan wadah berisi arang yang ditemukan pada pondasi candi. Hasil analisis menunjukkan hasil yang cenderung sama, yaitu candi ini diperkirakan telah ada sejak pertengahan abad ke-7 (sekitar tahun 600 masehi).
Maka dari itu, kesimpulan yang diperoleh bahwa Candi Bata Balekambang yang ada di Kabupaten Batang adalah candi tertua di Jawa Tengah. Berdasarkan periodenya, candi ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Kalingga (Holing).
