Lukisan Tertua di Dunia 67.800 Tahun di Temukan di Leang Metanduno, Muna, Sulawesi Tenggara

Related Articles

Gua Metanduno / Leang Metanduno yang terletak di Desa Liangkabhori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, selama ini dikenal sebagai salah satu situs prasejarah yang sering dikunjungi masyarakat. Di dalamnya, terdapat lukisan purbakala yang telah lama menarik perhatian peneliti maupun wisatawan.

Nama “Metanduno” sendiri berasal dari bahasa Muna yang berarti “menyeruduk”, merujuk pada banyaknya gambar hewan bertanduk yang menghiasi dinding gua tersebut.

Namun, di balik nilai wisatanya, gua ini menyimpan temuan yang jauh lebih besar: lukisan cadas berusia setidaknya 67.800 tahun, yang kini disebut sebagai salah satu yang tertua di dunia.

Para Arkeolog di Gua Metanduno ( Sumber BRIN)

Lukisan Tertua dan Teknik yang Digunakan

Penelitian yang dilakukan oleh tim kolaborasi Indonesia dan Australia, termasuk Basran Burhan, Adhi Agus Oktaviana, serta Prof. Adam Brumm dan Prof. Maxime Aubert dari Griffith University, menunjukkan bahwa lukisan tertua di gua ini berupa cap tangan manusia.

Gambar | Seni cadas bertanggal dari Leang Metanduno. a,b, Sampel LMET1 dan LMET2 dikumpulkan dari stensil tangan yang berbeda: foto panel seni cadas dengan dua stensil tangan (a) dan penelusuran digitalnya (b) sumber journal – https://doi.org/10.1038/s41586-025-09968-y

Teknik pembuatannya menggunakan metode semprot. Seniman prasejarah menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemprotkan pigmen sehingga menghasilkan siluet tangan.

Menariknya, beberapa cap tangan tersebut tidak dibiarkan dalam bentuk asli. Jari-jarinya dimodifikasi menjadi lebih panjang dan ramping, menyerupai cakar. Transformasi ini menunjukkan adanya proses kreatif dan simbolik, bukan sekadar representasi fisik.

Menurut Prof. Adam Brumm, hal seperti ini merupakan ciri khas perilaku manusia modern, yaitu kemampuan untuk berpikir abstrak dan menciptakan simbol.

Menggugurkan Narasi Eropa-Sentris

Penemuan ini turut menantang pandangan lama dalam dunia arkeologi yang menyebut bahwa perkembangan seni manusia pertama kali terjadi di Eropa sekitar 40.000 tahun lalu. Selama puluhan tahun, situs seperti Lascaux di Prancis dan Altamira di Spanyol dianggap sebagai pusat awal “ledakan kreativitas manusia”. Namun, temuan-temuan baru justru menunjukkan hal sebaliknya. Di Afrika Selatan, ditemukan ukiran oker dan manik-manik berusia antara 70.000 hingga 100.000 tahun. Sementara di Indonesia, bukti seni prasejarah terus bermunculan dalam satu dekade terakhir.

Prof. Adam Brumm menyebut bahwa gagasan tentang pusat kreativitas di Eropa kini semakin sulit dipertahankan, karena bukti perilaku simbolik manusia modern juga ditemukan di wilayah seperti Indonesia. Penemuan di Gua Metanduno bukanlah kasus tunggal. Sejumlah situs lain di Indonesia juga menunjukkan perkembangan seni yang sangat awal.

Pada tahun 2018, lukisan tangan dan figur hewan berusia sekitar 40.000 tahun ditemukan di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Kemudian pada 2024, para ilmuwan menemukan lukisan di kawasan Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

  • Adegan berburu di Leang Bulu’ Sipong 4 diperkirakan berusia setidaknya 44.000 tahun
  • Sementara adegan naratif yang menggambarkan tiga figur manusia berinteraksi dengan babi di Leang Karampuang diperkirakan berusia sekitar 51.200 tahun

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa tradisi seni telah berkembang secara luas dan berkelanjutan di Nusantara sejak puluhan ribu tahun lalu.

Proses Penanggalan yang Presisi

Untuk menentukan usia lukisan, para ilmuwan menggunakan metode laser-ablasi uranium-series (LA-U-series). Metode ini bekerja dengan menganalisis lapisan kalsit yang terbentuk di atas dan di bawah pigmen lukisan. Lapisan tersebut diibaratkan seperti susunan tipis “kulit bawang”, yang masing-masing menyimpan informasi waktu.

Dated rock art from Leang Metanduno. a, Transect view of sample

Dengan teknologi laser, peneliti dapat mengukur usia lapisan tersebut secara sangat presisi, sehingga menghasilkan estimasi umur lukisan yang lebih akurat dibandingkan metode sebelumnya.

Analisis menunjukkan bahwa aktivitas seni di Gua Metanduno berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, tidak hanya dalam satu periode. Lukisan-lukisan di dalam gua dibuat secara berulang selama sekitar 35.000 tahun, dan aktivitas tersebut terus berlangsung hingga sekitar 20.000 tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar tempat singgah, melainkan bagian dari lingkungan hidup manusia prasejarah yang menetap dan berkembang.

Migrasi dan Kemampuan Berlayar

Salah satu implikasi penting dari temuan ini adalah terkait migrasi manusia. Wilayah Sulawesi berada di kawasan Wallacea, yang secara geografis tidak pernah terhubung dengan daratan Asia maupun Australia. Artinya, manusia purba yang mencapai wilayah ini harus menyeberangi laut.

Menurut Basran Burhan, hal ini menunjukkan bahwa nenek moyang manusia modern telah memiliki kemampuan navigasi dan teknologi sederhana untuk berlayar. Migrasi ini kemungkinan besar dilakukan secara terencana, bukan kebetulan. Temuan ini juga menguatkan dugaan bahwa manusia telah mencapai Sahul (Australia-Papua Nugini) sekitar 65.000 tahun lalu, lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan.

Menurut Shinatria Adhityatama, Underwater Archaeology, temuan ini tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang cara hidup manusia awal di kepulauan Indonesia. sumber Brin

Adhi Agus Oktaviana juga mengatakan Sangat mungkin bahwa orang-orang yang membuat lukisan-lukisan ini di Sulawesi merupakan bagian dari populasi yang lebih luas, yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan dan pada akhirnya mencapai Australia,

Kemampuan berpikir simbolik yang menjadi dasar bahasa, budaya, dan peradaban sudah berkembang di Nusantara sejak sangat awal. Beberapa cap tangan di Gua Metanduno bahkan diduga berasal dari anak-anak, yang menunjukkan bahwa aktivitas seni tidak terbatas pada kelompok tertentu saja.

Ancaman terhadap Situs Prasejarah

Meski memiliki nilai penting bagi sejarah manusia, situs-situs seperti Gua Metanduno menghadapi berbagai ancaman. Pelapukan alami, pertumbuhan lumut, hingga aktivitas manusia seperti vandalisme dan pertambangan menjadi faktor yang dapat merusak lukisan. Batuan karst yang menjadi media lukisan juga merupakan bahan baku industri semen, sehingga eksploitasi yang tidak terkendali berpotensi menghancurkan situs sebelum sempat diteliti. Upaya pelestarian kini dilakukan melalui pemantauan kondisi lingkungan serta digitalisasi situs menggunakan teknologi virtual.

Penemuan lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Sulawesi bukan hanya memperkaya data arkeologi, tetapi juga mengubah cara kita memahami sejarah manusia.

Temuan ini menunjukkan bahwa:

  • Kemampuan berpikir simbolik sudah berkembang sangat awal
  • Seni bukan fenomena yang muncul di satu wilayah saja
  • Dan Nusantara memiliki peran penting dalam perjalanan panjang manusia modern

Di dinding gua yang sunyi, manusia prasejarah telah meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar gambar mereka meninggalkan jejak pemikiran.

References:

https://doi.org/10.1038/s41586-025-09968-y

Aubert, M. et al. Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia. Nature 514, 223–227

(2014)

Brumm, A. et al. Oldest cave art found in Sulawesi. Sci. Adv. 7, eabd4648 (2021).

 Oktaviana, A. A. et al. Narrative cave art in Indonesia by 51,200 years ago. Nature 631,

814–818 (2024)

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Popular stories