Perjalanan Menuju Dusun Mangkaluku; Kampung Tua di Pelosok Kabupaten Luwu Utara

Related Articles

Penulis: Ashrullah Djalil

Dusun Mangkaluku merupakan sebuah tempat yang tercatat dalam wilayah administrasi Desa Malimbu, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara. Hasil studi pustaka menunjukkan jika sebelumnya telah dilakukan riset oleh Budianto Hakim dkk pada tahun 1999 yang berhasil mengungkap adanya jejak peradaban yang relatif tua di wilayah tersebut. Budianto Hakim atau yang biasa disapa “Pak Budi” merupakan arkeolog senior dari Makassar, seorang peneliti asal BRIN yang waktu itu juga telah melakukan survey dan berhasil menemukan dakon dan batu bergores.

Biaya Sewa Ojek yang Pantastis

Berdasarkan hal tersebut. kami kemudian memutuskan untuk “naik” ke Mangkaluku. Hari itu kami berangkat pada tanggal 18 Desember 2024. Sekitar pukul 07.46 WITA kami berangkat menuju Desa Malimbung yang merupakan titik awal perjalanan menuju Dusun Mangkaluku.

Suasana kampung di Dusun Mangkaluku

Kami akan diantar dan dipandu langsung oleh para driver ojek yang handal dan berpengalaman. Harga ojek dari Desa Malimbung menuju Dusun Mangkaluku senilai Rp.700.000. kami sempat terkejut dengan harga tersebut karena menurut Samsul Bahri salah satu anggota tim yang pernah naik ke Seko harga tersebut terlalu mahal untuk jarak 25 km (Desa Malimbung-Dusun Mangkaluku). Sedangkan dari Sabbang menuju Seko dengan jarak 95 km, (Sabbang-Seko Lemo) dengan menggunakan ojek memiliki harga yang serupa. Kami tidak bisa membatalkan atau meminta biaya yang lebih murah karena kami datang bertepatan dengan musim durian. Kebanyakan tukang ojek gunung memiliki lahan durian yang siap dipanen sehingga ojek cenderung sulit didapatkan.

Dengan penuh optimis, kami pun melanjutkannya, kami menggunakan motor bebek yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Motor yang didesain menggunakan ban gigi khusus untuk jalur tanah atau berlumpur Rem belakang tidak dipasang dan lebih mengandalkan gear besar pada bagian belakang agar lebih kuat untuk mendaki dan turun bukit. Begitupun engine hood sengaja dilepas untuk mengurangi beban, serta stand kaki yang hanya disisakan sedikit saja agar tidak tersangkut oleh rumput, akar atau tanah.

Motor yang ditumpangi dan telah dimodifikasi

Perjalanan dimulai dengan menyeberangi jembatan gantung dan memasuki pengerasan. Jalur terdiri dari batuan kerikil (Mungkin ini memang jalur khas perkampungan wilayah pegunungan). Selang 10 menit,jalur mulai agak ekstrim. Jalur yang dilalui menyerupai gundukan tanah yang pada sisinya setinggi kepala orang dewasa. Jalur tersebut seolah terlihat seperti jalur air. Belum lagi, batuan vulkanik yang relatif besar juga menjadi penghamba, beberapa kali motor terpeleset dan hampir jatuh. Tapi para driver ojek yang kami tumpangi cukup lihai dan gesit, sehingga tak mengherankan jika biaya sewa yang kami bayarkan “sangat layak”. untuk mereka.

Kondisi jalur ekstrim menuju Dusun Mangkaluku

Setelah melewati beberapa tanjakan terjal dan licin, pada pukul 09.27 salah satu dari motor ojek yang ditumpangi oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan Luwu Utara (Ibu Ida) mengalami masalah. Ban hampir keluar karena baut pengancing as ban belakang jatuh. Namun masalah tersebut dapat segera teratasi, para tukang ojek dengan cepat dapat menyelesaikannya karena mereka telah mempersiapkannya sebelum keberangkatan. Sekali lagi pengalaman mereka memang pantas dibayar dengan harga mahal. Setelah perbaikan as ban belakang motor pak Amor, kami melanjutkan perjalanan. Pada pukul 09.31 kami beristirahat di sebuah shelter yang berada ditengah hutan.

Melalui Rute Yang Ekstrim

Saat istirahat kami mulai membangun kekerabatan dengan bercanda. Ditengah candaan tukang ojek, Ibu Ida mulai mengeluhkan punggungnya yang mulai sakit dengan nada hampir tertawa. “Pernahka naik ke seko tapi tidak sakitji badanku. Ini baru 1 jam jalan sudah mulai sakit belakangku” kehangatan mulai menyelimuti tim tukang ojek dan tim kami mulai berbaur.

Setelah menghabiskan rokok 1-2 batang dan mengalirkan air ke tenggorokan selama 30 menit, pukul 10.09 WITA kami melanjutkan perjaalnan. Selama perjalanan kami harus menjaga keseimbangan badan dan percaya dengan pengemudi ojek masing-masing. Saat itu kami juga harus melewati jembatan yang terbuat dari kayu. Waktu itu terasa mencekam, jembatan itu telah lapuk dan hanya ditopang oleh kayu yang direkatkan dengan tali tembaga. Terdiri dari pegangan bambu pada sisi kiri dan kanan yang lebarnya hanya untuk 1 orang. Namun, dengan penuh kehati-hatian kami akhirnya bisa melewatinya.

Disela-sela perjalanan terlihat bekas jalan yang telah ditumbuhi rumput dan sedikit semak belukar selebar jalan raya penghubung antar provinsi. Saya Bersama Pak Rony mulai mempbincangkan jalan tersebut. Menurut pak Rony jalan tersebut merupakan jalan bekas perusahaan kayu yang pernah beroperasi di Kawasan hutan tersebut.

Nama perusahaannya yaitu Barito Putera yang berasal dari Kalimantan. Pantas saja dalam jurnal yang di tulis oleh Pak Budi tentang temuan megalitik di Dusun Mangkaluku, pada bagian aksesibilitas pak budi menuliskan bahwa untuk bisa sampai ke Dusun Mangkaluku hanya bisa di akses dengan menggunakan mobil off road atau mobil four wheel drive. Kami heran kenapa kami tidak bisa menemukan akses tersebut yang ternyata telah tutup sejak lama.

Pukul 10.48 kami kembali beristirahat lagi di sebuah Shelter. Ibu Ida menyinggung halus tentang perencanaan kami untuk kembali pada hari yang sama dengan nada bercanda. “nda bisaki pulang hari ini kayanya”, tutur Bu Ida dengan nada yang sedikit ragu. Mungkin Ibu Ida sudah memikirkan sakit badannya Ketika kembali ke Desa Malimbung dengan jalur yang sama. Ditengah istirahat sambil menyantap snack yang kami bawa dari Desa, kami semua mulai mengeluhkan hal yang sama dengan Ibu Ida.

Setelah beristirahat sebentar kami Kembali melanjutkan perjalanan. Jarak dari shelter terakhir menuju Desa Malimbung tersisa sekitar 8 km. Dari shelter terakhir kami mulai turun kearah lereng bukit dengan melewati jembatan kayu yang sama seperti sebelumnya. Sewaktu menjelang tiba di Dusun Mangkaluku, tampak  vegetasi mulai berubah, lereng dengan tanah ditutupi rumput jepang Zoysia Japonica. Tak banyak lagi pohon-pohon berukuran raksasa dan sungai lebih dekat.

Sebelum memasuki pemukiman, kami menyeberangi jembatan gantung terbuat dari besi. Pasca itu, hal pertama yang kami lihat yaitu Masjid dengan beberapa rumah penduduk yang telah ditinggal oleh penghuninya. Kami kemudian melanjutkan perjalanan, namun tak lama berselang, kami kembali tiba di sebuh perkampungan yang di tengah-tengahnya terdapat bangunan sekolah. Namun, di kampung itu hanya menyisakan bangunan semata, kampung kemungkinan juga telah ditinggalkan.

Setelah berjalan lebih jauh ke dalam, baru kemudian menjumpai beberapa warga yang terdiri dari ibu-ibu berusia renta mulai keluar dari rumah mereka karena suara knalpot brong dari motor ojek yang kami tumpangi.

Jembantan gantung yang dilalui sebelum tiba di Dusun Mangkaluku


Tiba di Dusun Mangkaluku

Setelah menempuh sekitar 3 jam 20 menit perjalanan kami tiba di Dusun Mangkaluku pada pukul 11.54 WITA. Wajah ceria ibu-ibu tergambar jelas ketika kami mulai memperkenalkan diri. Mungkin memang mereka senang melihat orang dari luar datang menyambangi mereka karena jarang ada yang datang ke Mangkaluku kecuali para pembawa bahan pokok seperti garam dan ikan dari Desa Malimbung. Itupun yang membawa bahan pokok tersebut juga orang-orang yang pernah tinggal di Mangkaluku.

Melihat kami yang cukup lelah akan perjalanan para ibu-ibu membawa alat masak dari rumah mereka ke dapur umum yang biasa mereka gunakan untuk menyambut tamu. Tempat itu katanya juga merupakan dapur umum jika diadakan acara tertentu. Menurut Pak Rony, para warga di Dusun Mangkaluku memang selalu melakukan hal tersebut, ketika ada orang luar yang datang ke kampung mereka.

Memang kebanyakan kampung pedalaman di Sulawesi sangat ramah jika kedatangan tamu. Mereka akan menyuguhkan makanan terbaik yang mereka punya. Hanya saja di Mangkaluku kami sangat senang, mereka sampai bergotong-royong memasak bersama di dapur umum. Pasalnya di zaman sekarang sangat jarang kita bisa menemukan masyarakat dengan modal sosial yang sangat kuat seperti kami jumpai di Mangkaluku. Orang-orang zaman sekarang terutama di perkotaan akan selalu mementingkan diri sendiri. Ditengah kesibukan para warga yang memasak kami bercengkrama dengan beberapa ibu-ibu dan tukang ojek.

Di Dusun Mangkaluku hanya tersisa sekitar 30-an Kepala Keluarga dan didominasi oleh Wanita yang berusia senja. Kebanyakan dari mereka memilih pindah ke Desa Malimbung, Masamba, atau Kota Palopo. Alasan meninggalkan kampung didasari oleh hal yang sangat sederhana yaitu ekonomi dan Pendidikan. Kebanyakan dari warga terutama yang berada dalam usia produktif memilih keluar dan mencari kerja dengan gaji yang tinggi. “Kebanyakan anak muda disini ke Morowali (Daerah industri pertambangan di Sulawesi Tengah) kerja disana” ujar Pak Rony saat ditanya tentang dimana anak muda di kampung tersebut. “itu sekolah SD pernah ada guru dan muridnya, Cuma karena tidak cukup muridnya satu kelas makanya disuruh pindah ke bawah (Desa Malimbung) supaya bisa sekolah. Pindah anaknya tidak mungkinmi nda pindah orang tuanya” sambung pak Rony menjelaskan keberadaan para warga di pemukiman kosong yang ditemukan sebelum sampai di Dusun Mangkaluku.

Lanskap Dusun Mangkaluku memperlihatkan karakteristik pemukiman Austronesia. Dusun Mangkaluku berada pada pertemuan antar Sungai Mangkaluku di sebelah utara kampung dan Sungai Binuang pada sebelah selatannya. Ketinggian pemukiman berkisar 450-500 mdpl dan sekitar 25-40 m dari permukaan sungai. Pemilihan tempat tinggal oleh para penutur Austronesia awal di Sulawesi telah banyak dikaji oleh ahli prasejarah Sulawesi. Hasanuddin dkk, menyebutkan bahwa konsep atau gagasan para penutur Austronesia di Sulawesi dalam okupasi wilayah tertentu ditentukan oleh bentang alam yang mampu merepresentasikan identitas, kekuatan magis, serta terkait dengan pemenuhan protein. Lebih lanjut lagi, Hasanuddin menyebutkan penutur Austronesia yang bermigrasi ke Sulawesi menempati lokasi-lokasi dekat Sungai dan puncak bukit yang terbuka di lembah-lembah yang menyediakan sumber air untuk pertanian, dan bahan-bahan untuk pembuatan alat penunjang kehidupan seperti artefak batu.

Terlihat jelas bagaimana sentralisasi ekonomi dan intervensi pasar memaksa pola hidup subsisten yang selama ini menjadi pola yang terbentuk selama ribuan tahun berubah. Warga Dusun hanya akan kembali menanam padi Ketika ketersediaan beras akan habis “kalau tiga tahun nda habis beras tiga tahun nda tanam padi” tegas pak Arsono salah satu tukang ojek yang mengantar kami. Sagu, sayur mayur, dan makanan lainnya merupakan sumber protein hasil alam bagi warga Dusun Mangkaluku. Bahan pokok lain yang tidak terdapat di Dusun seperti Ikan kering dan garam dibawa dari Desa Malimbung oleh tukang ojek. “Durian disini banyak sekali busuk saja ji karna nda dijual ke bawah (Desa Malimbung)” ujar pak Arsono menggambarkan pola hidup warga dusun yang mengandalkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan protein.

Mendokumentasikan Jejak Peradaban di Dusun Mangkaluku

Setelah bercerita bersama warga dan menemukan kondisi pola kehidupan subsisten yang tergerus oleh zaman, kami melanjutkan aktivitas pengumpulan data yang menjadi tujuan utama kami naik ke Dusun Mangkaluku. Berdasarkan referensi dari tulisan pak budi tahun 1999 tidak ada koordinat dari objek yang dikajinya. Hanya sketsa peta yang digambar manual yang kami andalkan. Dari Peta tersebut terdapat 3 titik lokasi temuan yang terdiri dari 2 batu berlubang (Dakon) dan sebuah batu bergores. Kami harus menyandingkan peta digital di handphone dengan peta yang ada di jurnal pak budi. Dua temuan dakon tepat berada pada posisinya sedangkan batu bergores salah posisi. Dua batu tersebut berada pada dekat masjid dan depan rumah pak dusun tempat kami memarkirkan motor. Setelah survei di sekeliling kampung kami menemukan 2 tambahan dakon yang terletak tidak berjauhan. Sebuah dakon berada di belakang rumah pak dusun dan satu lainnya berada di samping sungai.

Denah situs hasil penelitian Budianto Hakim (!999)

Untuk efisiensi waktu mengingat kami harus pulang pada hari ini, kami membagi tim menjadi dua. setiap tim melakukan perekaman data terhadap masing-masing dua Dakon. Setelah perekaman data terhadap keempat dakon yang berada disekitar pemukiman selesai, kami mencoba mencari letak batu bergambar. Sesuai titik pada sketsa peta tahun 1999 seharusnya artefak tersebut berada pada sebelah utara tidak jauh dari perkampungan. Kami mendatangi titiknya tetapi kami menemukan hutan dengan semak belukar. Mungkin saja setelah puluhan tahun semak belukar telah menutupi artefak tersebut. Kami mencoba membersihkan semak belukar setinggi bahu orang dewasa dan menemukan batu biasa berdiameter kecil tanpa adanya gambar/goresan apapun. Pertanyaan dan asumsi mulai muncul dalam tim. Apakah batunya sudah tidak ada? Apakah pak budi salah dalam membuat sketsa? Kami pun Kembali ke pemukiman untuk menanyakan kepada warga setempat

Menurut warga setempat batu bergambar tersebut berada jauh lagi ke sebelah utara kampung.“oh batu bergores diataspi disamping sungai sama sawah. Sekitar 1 km keatas” mendengar hal tersebut kami meminta warga mengantar kami ke lokasi yang dimaksud. kami diantar ke tempat batu tersebut dengan motor melewati jalan yang sepertinya hanya kerbau yang bisa melewatinya. Sesampainya di lokasi batu tersebut kami langsung melakukan pengumpulan data. Beberapa pengojek mengambil gambar di atas batu tersebut untuk kenang-kenangan katanya karna mereka juga jarang ke tempat tersebut. Setelah sketsa, plotting, deskripsi dan sedikit berkeliling melakukan survei disekitaran lokasi batu tersebut, kami mulai berdiskusi apa yang salah dengan lokasinya. Jika dilihat dari gambar yang digores sedalam setengah centimeter pada batu tersebut yang kemudian kami sesuaikan dengan sketsa dalam jurnal pak budi, batu inilah yang dikajinya 26 tahun lalu namun mengapa sketsa dalam petanya salah?

Setelah semua selesai kami berfoto Bersama dan Kembali ke dusun Mangkaluku. Sedikit diskusi dengan tukang ojek karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.06 WITA dan perjalanan pulang harus ditempuh selama 3 jam lebih. “bagaimana pak, kalau pak bos bilang pulang kita pulang” ujar pak Irfan menanyakan kepastian pulang kepada kami. “kalau berani ki semua berani ki juga pulang karna pasti malam dijalan ki ini belum lagi ada motor yang tidak punya lampu depan” Jawab darfin. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang Kembali ke Desa Malimbung. Untuk motor yang tidak memiliki lampu depan meminjam Headlamp warga setempat sebagai sumber penerangan Ketika malam tiba. Lima dari enam motor sebenarnya tidak memiliki lampu mereka hanya menggunakan Headlamp sebagai penerangan Ketika berkendara diatas gunung Ketika malam hari. “semoga hujan tidak deras” kata pak Irfan melihat kondisi cuaca yang mulai berubah dan hujan rintik mulai jatuh.

Perjalanan Pulang

Pukul 16.20 WITA tim memulai perjalanan pulang. Para tukang ojek mulai menancap gas secepat yang mereka bisa karena hari sudah terlampau sore. Setelah berjalan sekitar 30 menit dan melewati beberapa jembatan, 3 motor yang ditumpangi Nam, Samsul dan Ibu Ida sepertinya menemui kendala karena kami tidak mendengarkan suara knalpot brongnya. Lalu, 3 motor lainnya yang ditumpangi yaya, darfin dan accung berhenti dan menunggu mereka. 5 menit berlalu mereka belum juga tiba. “ayo jalan lagi nanti di gubuk baru tunggu” ujar Pak Rony karena melihat hutan mulai gelap. Ditengah jalan pak rony mulai mengeluhkan bokongnya yang sangat sakit “mau lepas pantatku” katanya. Pada pukul 17.31 WITA kami tiba di shelter para pekerja pengeboran PLTA yang akan dibangun di Sungai Mangkaluku. Sembari menunggu 3 motor yang tertinggal para pekerja membuatkan kami kopi dan bertanya kami sedang apa disana. Sekitar 10 menit menunggu barulah 3 motor yang tertinggal muncul. Ternyata tali kopling motor yang ditumpangi nam putus. Ini akan menjadi penghambat, hari akan gelap sementara belum setengah jalan yang terlewati. Kami menghabiskan Kopi buatan pekerja PLTA sambil menertawakan sesama karena semua orang merasakan hal yang sama yaitu sakit punggung sampai ke bagian bawah. Yaya sampai memiringkan badan saat diatas motor dan membiarkan pahanya yang menyentuh jok motor karena pantat yang sangat kesakitan.

Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 17.40 WITA. Hutan tampak gelap dan hanya ada suara motor dan cahaya headlamp yang menyelimuti perjalanan. Motor mulai dipelankan karena jarak pandang terbatas pada cahaya Headlamp. Motor pak Pak Hasrin selalu mati pada saat berada di tanjakan karena tali kopling yang telah terputus. Sesekali kami harus menunggunya karena kendala tersebut. Pada pukul 19.17 kami tiba di Desa Malimbung dan berkumpul di Rumah pak desa untuk menyelesaikan proses administrasi. Perjalanan yang sangat melelahkan tetapi penuh dengan kegembiraan. Kami dapat mengonfirmasi hasil penelitian dan sekaligus merasakan pengalaman berharga bersama warga local yang ramah dan tidak bisa ditemukan di perkotaan.

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Popular stories