Penulis: Syamsul Bahri
NALAR – National Archaeology Kabupaten Soppeng menyimpan sebuah warisan masa lalu yang sangat berharga berupa artefak peninggalan manusia purba yang hidup jutaan tahun silam. Penemuan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim gabungan dari berbagai institusi penelitian, baik dari Indonesia maupun internasional. Artefak berupa alat batu tersebut bukan hanya sekadar benda purba, melainkan kunci untuk meninjau ulang pemahaman yang selama ini kita miliki tentang jalur dan pola migrasi manusia purba di Asia Tenggara.

Situs Calio di Soppeng, Sulawesi Selatan, menjadi lokasi penting dalam temuan ini. Dari
sini, terungkap bahwa hominin pembuat artefak tersebut telah menghuni wilayah Sulawesi jauh sebelum manusia modern tiba. Berdasarkan data arkeologis, manusia modern baru memasuki kawasan ini sekitar 50.000 tahun lalu, sehingga kehadiran hominin di masa yang lebih awal membuka pertanyaan besar tentang siapa mereka dan bagaimana mereka bisa mencapai pulau ini. Dengan demikian, artefak dari Situs Calio tidak hanya menambah deretan bukti arkeologis di Nusantara, tetapi juga memberikan pijakan baru bagi kajian ilmiah yang berupaya merangkai kembali kisah panjang perjalanan manusia purba di kawasan Asia-Pasifik.
“Melampaui Garis Wallacea” Menafsir Ulang Perjalanan Manusia Purba
Sebelum ditemukannya artefak di Situs Calio, bukti tertua keberadaan manusia purba (hominin) di Sulawesi berasal dari Situs Talepu, yang juga terletak di Kabupaten Soppeng. Artefak dari Talepu diketahui berusia sekitar 194.000 tahun. Selain di Soppeng, jejak peninggalan hominin berumur sekitar satu juta tahun ditemukan di Situs Wolo Sege, Pulau Flores yang selama ini didugasebagai bukti tertua migrasi manusia purba ke Sulawesi.
Penemuan di Situs Calio kini memberikan lapisan baru pada narasi migrasi manusia purba.
Jejak artefak yang ditemukan disana mengindikasikan bahwa hominin telah menempuh perjalanan panjang dari Afrika, melalui jalur daratan, bahkan melintasi lautan. Fakta ini menantang asumsi lama bahwa “penyebaran manusia purba hanya terjadi melalui jalur daratan.” Sebab, Sulawesi tidak pernah terhubung langsung dengan daratan Asia maupun Australia sejak masa Pleistosen. Dengan demikian, satu-satunya cara untuk mencapai pulau sulawesi adalah menyeberangi lautan.
Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa kapasitas kognitif manusia purba jauh lebih
tinggi dari yang dibayangkan sebelumnya. Penyeberangan laut bukanlah perjalanan sederhana, ia memerlukan pemahaman spasial, keterampilan navigasi, dan strategi bertahan hidup yang kompleks. Selama ini, kemampuan seperti itu umumnya hanya dikaitkan dengan manusia modern (Homo sapiens) baru melakukan penyeberangan laut di Asia Tenggara sekitar 45.000–70.000 tahun lalu. Namun, penelitian yang dipimpin oleh Budianto Hakim bersama rekan-rekannya menunjukkan bahwa manusia purba telah menguasai keterampilan ini jauh sebelum kedatangan Homo sapiens.

Dalam rilis resmi tim peneliti, Shinatria Adhityatama menegaskan: “Mereka bukan sekadar
terdampar, melainkan berhasil beradaptasi dan bertahan hidup di lingkungan Wallacea yang
kompleks. Jangan lagi meremehkan kemampuan bahari dan adaptasi maritim hominin awal,
karena mereka melihat laut bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai peluang untuk bergerak, mencari kehidupan, dan menjelajah ke tempat yang lebih baik”.
Jejak Artefak yang ditinggalkan Manusia Purba di Sulawesi
Situs Calio Terletak pada ketinggian 57 meter di atas permukaan laut, dekat Desa Ujung,
Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Situs Calio menjadi salah satu titik penting dalam peta prasejarah Sulawesi. Lokasinya berada sekitar 2,3 kilometer di sebelah timur Sungai Walennae, sungai purba yang sejak lama menjadi jalur ekologis penting di kawasan ini.
Di situs ini, para peneliti menemukan tujuh artefak batu yang tersebar pada kedalaman
berbeda, terletak di dalam dua lapisan sedimen yang terpisah. Seluruh artefak terbuat dari batu kalsedon (chert), berbentuk serpihan (flakes) yang dibuat melalui teknik pukulan langsung (hard hammer freehand percussion) salah satu metode klasik pembuatan alat batu yang digunakan sejak masa awal perkembangan teknologi hominin. Menariknya, dilapisan yang sama, ditemukan pula fosil rahang atas dan gigi milik Celebochoerus, babi purba endemik Sulawesi.

Untuk memastikan umur peninggalan ini, tim peneliti menerapkan kombinasi tiga metode
penanggalan mutakhir: analisis paleomagnetik pada sedimen, Uranium Series (US) pada material fosil, serta electron spin resonance (ESR) pada gigi yang ditemukan dalam konteks arkeologis yang sama. Pendekatan ini, dengan tingkat presisi tinggi, menegaskan bahwa artefak dari Situs Calio berasal dari periode Pleistosen Awal, masa yang menandai awal penyebaran hominin di kawasan ini.
Menurut Adam Brum dari Australian Research Center for Human Evolution dan School of
Environment and Science di Griffith University, “Penemuan yang dipimpin oleh para peneliti
Indonesia ini memiliki signifikansi global dalam memahami pergerakan hominin awal di sebelah timur Garis Wallacea. Penemuan di Calio menempatkan Sulawesi sebagai salah satu titik kunci dalam peta migrasi awal manusia di dunia. Ini bukan sekadar temuan regional, melainkan bagian dari kisah besar evolusi manusia secara global”.
Membongkar Jejak Migrasi Tertua: Hominin Awal di Sulawesi dan Tantangan Teori Lama
Penemuan terbaru ini menjadi sorotan besar dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya
arkeologi. Tim peneliti yang dipimpin oleh Budianto Hakim mengungkap bukti meyakinkan
bahwa antara 1,1 hingga 1,5 juta tahun lalu, telah ada populasi manusia purba yang hidup di Pulau Sulawesi. Temuan ini melengkapi rangkaian bukti sebelumnya: keberadaan hominin di Flores yang diperkirakan berumur 1,02 juta tahun, dan hominin di Luzon, Filipina, yang berusia sekitar 700.000 tahun.
Fakta ini memunculkan pertanyaan besar: Siapakah penghuni awal Sulawesi pada masa Pleistosen awal? Apakah mereka bagian dari Homo erectus yang luas persebarannya di Asia? Ataukah kelompok lain yang kini telah punah? Ada pula kemungkinan bahwa mereka adalah nenek moyang dari Homo floresiensis si “Manusia Hobbit”, atau Homo luzonensis di Filipina. Lebih mengejutkan lagi, bukti ini membuka peluang bahwa rute menuju wilayah Sahul (Papua dan Australia) mungkin sudah ditempuh sebelum kemunculan Homo sapiens. Artinya ada kemungkinan jauh sebelum itu Hominin yang lebih tua bermigrasi besar-besaran.
Menurut Budianto Hakim, manusia pertama kali muncul di Afrika sekitar tiga juta tahun
lalu, secara bertahap mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Asia sekitar 1,8 juta tahun silam. Selama ini, teori yang berlaku menyebutkan bahwa migrasi manusia purba “terhenti” di Pulau Jawa, lantaran dianggap mustahil bagi mereka untuk menyeberangi laut dalam yang memisahkan daratan Asia dengan wilayah Wallacea zona perairan luas yang termasuk Sulawesi.

Namun, penemuan di Situs Calio, Soppeng, mengubah pandangan tersebut. Analisis
pertanggalan pada artefak menunjukkan keberadaan hominin di Wallacea sejak 1,1 hingga 1,5 juta tahun lalu, menjadikannya bukti tertua tentang kehadiran manusia purba di wilayah ini. “Temuan ini bukan sekadar menggugurkan teori lama, tetapi juga menegaskan bahwa hominin awal memiliki kemampuan dan strategi migrasi yang jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan sebelumnya” tegas Budianto Hakim.
Referensi:
Hakim et al., 2025. Hominins on Sulawesi during the Early Pleistocene. Nature, 1-6.
