Ketika menyebut Papua, banyak orang langsung membayangkan hutan lebat, laut biru yang luas, dan kekayaan alam yang melimpah. Di bagian selatan Provinsi Papua Barat terdapat sebuah wilayah yang tidak hanya kaya secara hayati, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan manusia. Wilayah itu ialah Kabupaten Fakfak.

Fakfak berbatasan dengan Teluk Bintuni, Laut Arafura, Laut Seram, Teluk Berau, dan Kabupaten Kaimana. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu penghasil pala terbaik di Nusantara. Selain pala, masyarakat juga membudidayakan Masoi, Damar, serta hidup berdampingan dengan fauna khas Papua seperti Burung Cendrawasih. Namun jauh sebelum komoditas rempah dikenal dunia, ribuan tahun lalu gugusan pulau di pesisir Fakfak telah menjadi ruang hidup manusia prasejarah.
Jejak Hunian Manusia Prasejarah
Bukti kehidupan prasejarah di Fakfak dapat ditelusuri melalui penelitian arkeologi di sejumlah gua, salah satunya di Gua Dudumunir yang terletak di Kampung Arguni, Distrik Kokas. Penelitian yang dilakukan oleh Bau Mene dan tim pada tahun 2015 dan 2018 menemukan berbagai artefak seperti alat batu, fragmen tembikar, tulang dan gigi hewan, tulang manusia, cangkang kerang, arang sisa pembakaran, serta gambar cadas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Gua Dudumunir bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hunian yang cukup intensif. Letaknya yang strategis, dekat sumber air, memiliki lantai relatif datar dan kering, serta pencahayaan yang memadai menjadikannya tempat ideal untuk bermukim. Di ruang seperti inilah manusia prasejarah kemungkinan mengolah makanan, membuat alat, beristirahat, hingga melakukan aktivitas sosial.
Menariknya, gua ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi penguburan. Penemuan fragmen tulang dan gigi manusia menunjukkan adanya perlakuan terhadap jenazah. Aktivitas tersebut mengindikasikan sistem kepercayaan dan makna simbolik terhadap ruang hunian. Gua Dudumunir bahkan dikategorikan sebagai multicomponent site, karena menunjukkan penggunaan ruang yang berulang dan berkelanjutan hingga periode yang lebih muda.
Jejak serupa juga ditemukan di Gua Andarewa di Distrik Kokas. Di lokasi ini ditemukan alat batu, alat tulang, fragmen tulang, kumpulan kerang, serta manik-manik. Temuan tersebut menjadi bukti kehidupan masyarakat yang memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut sebagai penopang utama kehidupan. Kerang dan fauna laut menjadi sumber pangan, sementara batu dan tulang diolah menjadi teknologi sederhana untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Dari berbagai temuan tersebut, dapat dibayangkan bahwa masyarakat prasejarah Fakfak hidup sebagai komunitas pesisir yang adaptif terhadap lingkungan laut dan karst. Mereka tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga membangun sistem sosial dan budaya yang cukup kompleks.
Karya Seni dan Ekspresi Simbolik
Selain bukti hunian, Fakfak juga menyimpan warisan seni prasejarah berupa lukisan cadas yang tersebar di sejumlah tebing pesisir Distrik Kokas, seperti di Kampung Arguni, Pulau Ugar, dan Kampung Andamata. Roder pada tahun 1928 telah mendata lebih dari lima puluh lokasi yang menyimpan lukisan cadas.

Berbeda dengan lukisan prasejarah di Kawasan Karst Maros-Pangkep atau Sangkulirang-Mangkalihat yang banyak ditemukan di dalam gua atau ceruk daratan, lukisan di Fakfak umumnya berada pada tebing batu yang langsung menghadap laut. Akses menuju lokasi ini bahkan harus menggunakan perahu, memperlihatkan betapa eratnya hubungan masyarakat prasejarah merupakan masyarakat pesisir.
Beberapa situs yang dikenal antara lain Tebing Mampoga dan Tebing Risato di Pulau Arguni, serta Tebing Sarfa di Pulau Ugar. Motif yang ditemukan cukup beragam: cap tangan, ikan, cumi-cumi, teripang, jangkar, matahari, motif geometris, hingga bentuk-bentuk abstrak berwarna merah. Dominasi motif biota laut memberi petunjuk kuat bahwa laut bukan sekadar sumber pangan, melainkan bagian dari identitas dan dunia simbolik masyarakatnya. Lukisan-lukisan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi, penanda ruang, atau bahkan bagian dari praktik ritual tertentu.
Sejumlah peneliti menduga bahwa tradisi lukisan cadas di Fakfak berkaitan dengan pengaruh kebudayaan Austronesia. Utamanya karena keterkaitannya dengan temuan tembikar dan bukti hunian manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Fakfak kemungkinan menjadi bagian dari jaringan interaksi budaya yang lebih luas di kawasan timur Nusantara.
Warisan yang Perlu Dijaga
Kabupaten Fakfak bukan hanya wilayah penghasil rempah, tetapi juga ruang yang menyimpan memori panjang perjalanan manusia. Dari hunian gua, praktik penguburan, hingga lukisan di tebing pesisir, semuanya merekam cara manusia prasejarah beradaptasi, berpikir, dan mengekspresikan dirinya.

Masih sangat mungkin bahwa di balik tebing-tebing karst dan pulau-pulau kecil Fakfak tersimpan jejak lain yang belum terungkap. Oleh karena itu, pelestarian dan penelitian berkelanjutan menjadi kunci agar warisan ini tidak hilang oleh waktu.
