Kisah Panjang Hubungan Manusia dan Sahabat Setianya
Penulis: Mega Ayu Alfitri
Hewan berambut yang lucu dan menggemaskan kerap kali menjadi pembangkit semangat ketika stres melanda. Salah satu hewan tersebut adalah anjing. Tidak hanya dikenal sebagai peliharaan, anjing bahkan kerap dikaitkan dengan simbol prestise dan kedekatan emosional dengan manusia. Namun, di balik citra modernnya itu, anjing menyimpan sejarah panjang yang jauh melampaui relasi domestik sehari-hari.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kehadiran anjing sangat erat kaitannya dengan proses migrasi manusia. Artinya, hubungan keduanya bukanlah fenomena baru, melainkan telah terjalin sejak ribuan tahun lalu. Lantas, sejak kapan sebenarnya manusia dan anjing mulai hidup berdampingan?

Jika diperhatikan secara anatomi, anjing memiliki kemiripan mencolok dengan serigala—mulai dari bentuk moncong hingga susunan gigi. Kesamaan ini bukanlah kebetulan. Secara taksonomi, anjing (Canis lupus familiaris) berada dalam satu garis keturunan dengan serigala (Canis lupus) dalam famili Canidae. Berdasarkan bukti genetik dan arkeologis, anjing diyakini merupakan hasil domestikasi serigala purba.
Migrasi Manusia, Migrasi Anjing
Temuan DNA menunjukkan bahwa proses domestikasi ini kemungkinan telah terjadi sejak sekitar 15.000 tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih awal, pada masa ketika manusia masih hidup sebagai pemburu dan pengumpul. Shipman (2020) misalnya, mengungkapkan bahwa anjing telah hadir di Asia Timur sekitar 12.500 tahun lalu. Fakta ini menguatkan dugaan bahwa anjing merupakan hewan domestikasi pertama dalam sejarah manusia.
Meskipun demikian, lokasi awal domestikasi anjing masih menjadi perdebatan. Sebagian peneliti berpendapat bahwa domestikasi pertama kali terjadi di Asia Timur dan kemudian menyebar mengikuti migrasi manusia. Sementara itu, asumsi lain menyebutkan bahwa proses domestikasi terjadi di dua wilayah berbeda dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Hingga kini, kedua pandangan tersebut masih terus dikaji untuk mendapatkan kepastian yang lebih akurat.
Terlepas dari misteri lokasi awal domestikasi anjing tersebut, mereka diyakini telah dijinakkan secara komensal. Komensal yang dimaksud ialah ketika anjing tertarik dengan sampah makanan manusia yang kemudian secara bertahap bergantung dengan pemukiman manusia. Mereka mulai terbiasa dan mulai beradaptasi dengan kehadiran manusia. Namun ada juga beberapa peneliti yang mengungkap jikalau anjing dan manusia bersaing untuk mendapatkan makanan. Asumsi ini menunjukkan jika manusia lebih cakap dan mumpuni dengan peralatan berburu dan strateginya sedangkan anjing hanya mengandalkan gigi taring dan indera penciumannya saja. Tetapi karena kemampuannya itu juga yang membuat manusia menjadi terkesima, sehingga di beberapa kesempatan manusia mengandalkan anjing sebagai hewan penyerta dalam berburu.
Asia Tenggara: Ketika Tulang Mulai Bicara
Penelitian arkeologis mengenai kehadiran anjing dalam kebudayaan Asia Tenggara ditemukan di situs Nagsabaran Filipina berasal dari masa 2500 BP, atau tepatnya pada masa Neolitik akhir (awal masa logam) (Amano, 2013). Anjing kemungkinan telah hadir setelah masa 3500 BP saat sistem agrikultur mulai diadopsi oleh wilayah tersebut (O’Connor, 2015). Selain itu, Data mengenai kehadiran anjing juga ditemukan di Vietnam bagian selatan, tepatnya di situs An Son. Pada situs ini, anjing telah di domestikasi saat masa hunian awal yakni sekitar 2000 BP. Terdapat bukti penjagalan pada tulang yang diindikasikan sebagai praktik konsumsi oleh manusia yang pernah menghuni situs An Son (Piper, et al, 2014).

Bukti-bukti kehadiran anjing di Indonesia juga melimpah ruah di berbagai daerah. Salah satu wilayah Indonesia yakni situs Loyang Mendale Aceh memperlihatkan temuan rangka anjing yang terkubur dengan posisi terlipat. Posisi terlipat seperti ini ditandai sebagai status khusus dalam komunitas. Selain di Aceh, ditemukan pula rangka anjing di wilayah Timor Timur yang diyakini berasal dari masa 2921-3075 BP. Pada situs ini, ditemukan bukti bahwa anjing mengonsumsi makanan yang sama dengan babi. Temuan ini menunjukkan bahwa anjing telah diperlakukan secara khusus dan memiliki kedekatan dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, anjing bukan sekadar hewan liar yang kebetulan berada di sekitar pemukiman, melainkan telah menjadi bagian dari sistem kehidupan manusia.
Leang Jarie, Relasi yang Lebih Kompleks
Di Sulawesi Selatan, jejak hubungan manusia dan anjing dapat ditelusuri melalui salah satu temuan arkeologis di situs Leang Jarie, Kabupaten Maros. Situs ini menyimpan rekaman interaksi manusia dan lingkungan sejak ribuan tahun lalu. Dari sisa tulang anjing yang ditemukan, terlihat adanya bekas potongan dan irisan halus. Bekas ini menandakan bahwa anjing pernah dikonsumsi sebagai sumber protein oleh manusia prasejarah (Mega Ayu Alfitri, 2022).
Menariknya, anjing yang dikonsumsi di situs Leang Jarie tersebut, umumnya berada pada usia produktif, yaitu antara 1 hingga 6 tahun (Mega Ayu Alfitri, 2022). Peran anjing dalam kehidupan manusia tidak hanya sebatas sebagai sumber makanan. Seiring berkembangnya kebudayaan, fungsi anjing pun ikut berubah. Mereka mulai dilibatkan dalam aktivitas berburu, menjaga pemukiman, hingga menjadi bagian dari praktik kepercayaan dan ritual. Di berbagai daerah di Nusantara, anjing bahkan menempati posisi penting dalam sistem simbolik masyarakat.
Perubahan Peran dan Makna Budaya
Di Toraja, misalnya, anjing masih sering dihadirkan dalam upacara adat tertentu. Sementara itu, di wilayah Bugis-Makassar, tapak kaki anjing yang ditemukan pada bata kuno Benteng Somba Opu dipercaya melambangkan keberanian. Simbol-simbol ini memperlihatkan bahwa anjing bukan hanya dipandang sebagai hewan, melainkan juga sebagai bagian dari identitas budaya. Perubahan peran anjing dari sumber pangan menjadi mitra berburu dan penjaga juga menunjukkan betapa dinamisnya hubungan manusia dan hewan ini. Pada masa agraris, anjing membantu menggembalakan ternak, menjaga ladang, dan mengusir hama. Sedangkan di masa modern, peran anjing semakin beragam; sebagai hewan peliharaan, penjaga rumah, pencari korban bencana, hingga pendamping terapi.

Kedekatan emosional antara manusia dan anjing pun semakin kuat. Kesetiaan, kecerdasan, serta kepekaan anjing terhadap emosi manusia membuat mereka memiliki tempat istimewa di hati banyak orang. Tak heran jika kini anjing sering dianggap sebagai anggota keluarga.
Melalui tulang-belulang yang tertinggal di situs arkeologi, kita dapat menelusuri perjalanan panjang hubungan manusia dan anjing, dari makhluk liar di sekitar perkemahan, menjadi sumber pangan, lalu sahabat setia yang menemani perjalanan peradaban. Hal ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang manusia, tetapi juga tentang makhluk lain yang ikut membentuk cara kita bertahan hidup dan berkembang.
