Penulis: Andi Muhammad Hidayat Makkasau
Morowali dikenal luas sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, khususnya dalam sektor pertambangan dan pengolahan nikel. Pesatnya aktivitas industri, pembangunan infrastruktur modern, serta perannya dalam rantai pasok global menjadikan daerah ini identik dengan kemajuan dan dinamika ekonomi. Namun, di balik gemuruh mesin industri dan geliat pembangunan tersebut, Morowali juga menyimpan serpihan surga yang menenangkan jiwa, yaitu di kawasan Pulau Sombori. Gugusan pulau karst yang menjulang di atas laut biru toska, laguna-laguna tersembunyi yang tenang, serta hamparan alam yang masih alami menghadirkan kontras yang indah dengan wajah industrial Morowali.

Jejak hunian prasejarah di kawasan pulau sombori
Selain dikenal karena keindahan alam baharinya yang eksotis, kawasan Pulau Sombori juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang penting. Julukan “Raja Ampatnya Sulawesi Tengah” tidak hanya merujuk pada panorama karst dan perairan jernih yang memukau, tetapi juga pada kekayaan warisan budaya yang tersembunyi di pualu pulau kecil dan balik tebing-tebing batunya.
Pada umumnya, tinggalan arkeologi yang sering ditemukan di dalam gua dapat berupa lukisan cadas, alat batu, sampah dapur (kerang/moluska), rangka manusia, tembikar hingga keramik. Dengan data arkeologi inilah, penelitian arkeologi akan mengungkap gambaran kehidupan manusia masa lampau di situs-situs gua tersebut. Berbagai indikasi seperti ini juga kemudian memberi informasi tentang berbagai kegiatan yang pernah berlangsung, misalnya sebagai lokasi penguburan, perbengkelan (pembuatan peralatan untuk keperluan hidup), hunian/ permukiman, dan kemungkinan ada juga yang berfungsi ganda. Dengan kata lain, eksploitasi gua dan ceruk yang sudah dilakukan oleh manusia sejak masa prasejarah (Kala Holosen) tersebut seringkali juga dimanfaatkan sebagai ruang multi fungsi; yaitu sebagai tempat hunian, pusat kegiatan industri dan tempat penguburan (Simanjuntak, 1996).
Di pulau tersebut, terdapat satu lokasi yang telah diidentifikasi sebagai gua prasejarah dengan karakterisitik hunian. Gua tersebut ialah gua berlian. Di situs tersebut kita dapat menjumpai konsentrasi kerang yang terdeposit secara masif di permukaan tanah dan juga sedimentasi kerang bagian bawah dinding gua. Dominasi jenis kerang yang ditemukan di gua Berlian berdasarkan klasifikasi famili terdiri dari Tridacnidae, Trochidae – Turbinidae – Nerita albicilla, Strombidae – Lambis-lambis, Cypraeidae, Rannelidae, dan Conidae. Sebaran kerang kemudian diindikasikan sebagai bahan makanan bagi penghuni gua pada masa lalu. Dalam istilahnya seringkali dinamakan sebagai Kjokkenmoddinger atau sampah dapur yang merupakan proses dari tumpukan sedimentasi (fosil) kulit kerang dan tulang hewan yang dihasilkan manusia masa lalu. Karakterisitik semacam ini pada sejumlah gua bentukan alam pada masa prasejarah seringkali diindikasikan sebagai gua hunian dengan mengamati pola sampah dapur yang ditemukan diatas lahan situs.
Budaya Penguburan di Kawasan Pulau Sombori
Selain Gua Berlian yang menjadi saksi aktivitas prasejarah, terdapat sejumlah lokasi lain di kawasan Pulau Sombori yang mengindikasikan adanya jejak kehidupan manusia pada masa lampau. Kawasan ini tidak hanya menyimpan bukti hunian, tetapi juga memperlihatkan ragam aktivitas budaya penguburan yang pernah berkembang di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil survei Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang dilaksanakan pada tahun 2025 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Morowali bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII, teridentifikasi beberapa titik lokasi yang diduga kuat sebagai situs penguburan. Temuan ini menunjukkan bahwa Pulau Sombori memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat bermukim, tetapi juga sebagai ruang sakral yang dimanfaatkan untuk praktik penguburan oleh masyarakat pada masa lalu.


Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, setidaknya ada tiga lokasi yang teridentifikasi menunjukkan karakteristik sebagai situs penguburan dengan karakter temuan yang seragam yaitu Gua Ke’e 1 Gua Ke’e 2 dan Gua Tulang. Keberadaan fragmen tulang manusia di setiap gua menguatkan indikasi bahwa gua-gua tersebut pernah dimanfaatkan sebagai tempat penguburan. Sementara itu, pecahan tempayan yang ditemukan di sekitar fragmen tulang diduga merupakan bagian dari wadah penguburan sekunder atau bekal kubur yang berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu. Pola temuan yang konsisten di beberapa titik menunjukkan adanya tradisi penguburan yang terstruktur dan dilakukan secara berulang dalam kurun waktu tertentu.


Warisan Masa Lalu Yang Patut Dilestarikan
Bagi masyarakat setempat, gua gua penguburan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan ruang yang memiliki nilai spiritual. Lokasi-lokasi ini dihormati dan dijaga, serta tidak boleh dirusak atau diperlakukan sembarangan. Hal ini menjadi bagian dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Keberadaan situs penguburan di kawasan Sombori memperkaya makna wilayah ini. Sombori bukan hanya lanskap indah untuk wisata bahari, tetapi juga ruang sejarah dan identitas budaya. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata di kawasan ini perlu memperhatikan aspek pelestarian budaya, termasuk perlindungan situs-situs penguburan agar tetap terjaga dan dihormati.
Dengan memahami nilai sejarah dan budaya di balik keindahan Pulau Sombori, pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati panorama alamnya, tetapi juga menghargai warisan leluhur yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kawasan tersebut.
