Penulis: Ashrullah Djalil
NALAR – National Archaeology, Sebelum masuknya imperialisme ke Nusantara, hidup subsisten dengan alam merupakan pola kehidupan yang menghiasi keseharian masyarakat. Namun, ketika Portugis mulai menguasai Malaka pada 1511, seketika pola hidup tersebut mulai berubah dan tercipta standar hidup yang baru. Pola tersebut kemudian semakin berkembang ketika VOC dan Inggris ikut dalam laga perniagaan Nusantara yang memuncak pada Tahun 1641 saat terbentuknya aliansi antara Johor dan VOC. Kongsi dagang Belanda dan Inggris saling berbagi wilayah Nusantara untuk dijadikan lahan produksi sumber daya alam yang akan diperjualbelikan.
Semua daerah kekuasaan (utamanya para bangsawan) secara tidak sadar mempelajari cara hidup orang-orang barat yang lalu lalang di tempat mereka. Perlahan bangsawan atau penguasa terpengaruh, otomatis akan menggerakkan seluruh Masyarakat di wilayah tersebut. Contoh paling nyata tercatat pada sejarah kejaraan-kerajaan besar Melayu seperti Johor. VOC memberikan kuasa semu kepada Johor agar bisa menguasai wilayah dan perdagangan yang ada pada Johor. Bukannya melawan dan melepas diri dari kekangan tersebut, Johor justru menerapkan kebijakan serupa kepada orang laut dan orang hutan untuk mendapatkan keuntungan serupa dengan VOC. Strategi tersebut cenderung kerap juga digunakan beberapa Kerajaan-Kerajaan besar Nusantara kala itu sebelum mereka berkuasa sepenuhnya.

Berabad-abad pasca kemerdekaan, pasar bebas mulai menggerakkan perekonomian. Kebutuhan terus meningkat meskipun sebenarnya terkadang tidak terlalu dibutuhkan. Masyarakat cenderung mengikuti tren dan membeli barang yang hanya sesekali bahkan terkadang tidak digunakan. Perabot yang mewah serta pernak-pernik merupakan contoh pembelian yang sebenarnya bukan menjadi kebutuhan utama, melainkan hanya untuk kepentingan fashion dan beberapa kepentingan lainnya yang cenderung hanya digunakan untuk meningkatkan nilai atau status social tiap individu atau kelompok.
Sebelum era modern yang kita jumpai saat ini, hal semacam itu sangat jarang ditemui, yang ada hanya bagaimana cara untuk makan hari ini. pun ketika kebutuhan hari ini sudah terpenuhi. lebihnya akan diberikan kepada tetangga yang membutuhkan. Standar-standar hidup tersebut mereorientasi kehidupan masyarakat yang sebelumnya memiliki modal Sosial yang erat, perlahan-lahan mengurai ikatan-ikatan Sosial dalam masyarakat. Di Pambusuang misalnya, sebelum 1980an ketika nelayan kembali setelah melaut, kelebihan hasil tangkapan tidak dijual tapi dibagikan kepada tetangga yang tidak pergi melaut. (Informan Ridwan Alimuddin) Sekarang kebiasaan itu tidak ada lagi, standar baru akan setumpuk kebutuhan tadi menggeser kebiasaan lama.

Pengaruh Perkembangan Pasar dan Perilaku Konsumtif Terhadap Sandeq Sebagai Perahu Tradisional Khas Mandar
Kasus yang telah dijelaskan sebelumnya tentu sangat berdampak terhadap pola hidup masyarakat pesisir. Salah satunya ialah keberadaan perahu Sandeq hingga hari ini. Tetapi bagi kebanyakan orang, hal tersebut terkadang kurang disadari bahkan tidak ada upaya untuk mengevaluasi karena itu dianggap sebagai tuntutan untuk ber”adaptasi“. Oleh karena itu, tidak ada pembacaan terkait bentuk adaptasi tersebut akan berdampak baik atau buruk kedepannya.
Sandeq merupakan bentuk baru dari perahu pakur yang masih jadul dengan layar persegi panjang menggunakan bahan karoro (bahan alami yang dibuat menggunakan daun). Sandeq digunakan untuk melaut khususnya berburu telur ikan terbang (motangga), memancing di perairan yang jauh (mallarung), dan menangkap ikan di rompong (maroppong). “Usia sandeq hingga hari ini diperkirakan sudah ada sejak hampir 300 tahun yang lalu“, tutur Ridwan Alimuddin.
Dahulu Sandeq menjadi alat utama dalam menggerakkan ekonomi masyarakat mandar secara mikro tidak hanya untuk pa’sande. Ketika sang suami melaut istri setiap malam jumat akan mengadakan pengajian dengan melibatkan tokoh agama, dan kerabat dekat. Ketika Sandeq pulang dari perburuan Ikan terbang semua orang di pantai juga akan merasakan keuntungan dari hasil tangkapan dengan membersihkan epe-epe (alat penangkap telur ikan terbang) dan menjualnya. Telur ikan terbang yang ditangkap tidak langsung dijual tetapi dibagikan terlebih dahulu kepada sanak saudara yang memberikan bekal kepada pa’sande. “Sebagai contoh Jika bekalnya satu kaleng kue kering maka akan dibalas dengan satu kaleng telur ikan terbang. Sang tukang pembuat sandeq juga akan mendapat bagian dari hasil tangkapan sebagai bentuk terima kasih karena sudah membuat sandeq yang tangguh, jelas Bapak Kama Kera.

Sandeq dalam Inovasi Teknologi dan Sistem Bagi Hasil Bagi Para Awak
Sandeq merupakan perahu bercadik dua bertiang layar satu dan layar berbentuk segitiga khas Mandar. Evolusi perahu bercadik Austronesia dengan memadukan bentuk body yang disesuaikan dengan lingkungan laut Teluk Mandar dan bentuk layar segitiga Eropa sehingga melahirkan sandeq yang terkenal dengan kecepatan, keindahan, serta ketangguhannya menerjang ombak besar di lautan.

Perahu Sandeq merupakan mahakarya yang begitu penting pada masanya. Keberadaannya menjadi referensi penting dalam memunculkan inovasi teknologi melaut di era sekarang ini. Setidaknya sejak 1980-1990an jumlah sandeq mulai berkurang dan mulai digantikan oleh perahu bertenaga mesih. Jika dibandingkan, Sandeq hanya mengandalkan angin untuk berlayar, sementara menggunakan perahu mesin tidak perlu menunggu angin. Pada saat angin kencang pun, perahu mesin tidak perlu khawatir dengan kemungkinan terbaliknya perahu, sedangkan sandeq ketika angin kencang harus berdiri (timbang) menarik tiang layar ke arah datangnya angin dibagian cadiknya agar angin tidak terus mendorong perahu hingga terbalik.
Satu hal menarik lainnya ialah soal system bagi hasil. Pembagian hasil punggawa sawi Sandeq tidak kalah dari perahu mesin. Keuntungan yang didapat perahu mesin harus dibagi rata antara punggawa, sawi, perahu sebagai biaya perawatan, dan dua mesin pendorong sebagai biaya perawatan dan bahan bakar. Sedangkan Sandeq hanya membaginya kepada perahu itu sendiri, punggawa, dan sawi.
Kondisi dan Area Jelajah Perahu Sandeq
Pemancingan ikan di perairan yang jauh menggunakan sandeq sekarang sudah tidak ada lagi. Pemancingan ikan dengan menggunakan Sandeq dilakukan di perairan sebelah timur Kalimantan dan sebelah timur laut Pulau Jawa. Menurut Ridwan Alimuddin ketiga perairan ini termasuk Teluk Mandar merupakan segitiga emas pelaut mandar. Nelayan mandar yang Mallarung melakukan hal ini karena Tingkat kebutuhan akan ikan tertentu yang berada di perairan yang disebutkan. Ikan hasil pancingan akan diolah dan dikeringkan lalu dijual ke daratan terdekat dari spot pemancingan.
Durasi paling lama untuk mallarung sampai 3 bulan, setidaknya sampai ikan bermigrasi ketempat lain. menurut penuturan kebanyakan orang di pambusuang pemancingan ikan di perairan yang jauh berakhir pada 1990an awal. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan ikan segar yang terbukti lebih sehat dibanding ikan kering. Sekarang sandeq tidak lagi Mallarung, tergantikan oleh perahu bermesin berukuran besar yang melakukan operasi pemancingan di Kalimantan, Kendari, dan teluk Bone mengikuti migrasi ikan Tuna setiap pergantian musim. Jelas nelayan akan beralih ke perahu bermesin karena ia mampu mengakses tempat yang lebih jauh dibanding sandeq dengan waktu yang lebih sedikit dibanding sandeq. Bagaimana tidak, Sandeq hanya menunggu angin yang tidak selalu ada untuk berlayar, sementara perahu bermesin hanya membutuhkan bahan bakar untuk terus melaju.
Referensi:
Andaya, L. Y. (2019). Selat Malaka Sejarah Perdagangan dan Etnisitas. Depok: Komunitas Bumbu.
Anwar, S. T. (2017). Kapital Sosial Negara dan Pasar. Makassar: PT. Maupa Masagena Media Kreasindo.
