Penulis: Syamsul Bahri
Belakangan ini kita sering disuguhi informasi yang sangat menarik dari dunia riset arkeologi di Indonesia. Seperti, temuan jejak kehidupan hominin di Sulawesi, temuan fosil tengkorak Homo Erectus di Selat Madura, lukisan tertua di dunia yang ditemukan di Sulawesi Tenggara, dan masih banyak lagi temuan arkeologis yang sangat menarik untuk kita bahas. Namun, dalam tulisan ini kita akan membahas lukisan prasejarah atau yang sering kali diistilahkan dengan sebutan Rock Art. Lukisan prasejarah dianggap sebagai salah satu jejak peradaban spektakuler yang cukup melimpah dan tersebar di berbagai Pulau di Nusantara.
Lukisan prasejarah kadang kala membuat kita takjub dengan keberadaannya. Karya seni dari zaman “Purba” ini begitu tampak nyata terlukis di dinding atau tebing-tebing batuan karst. Fenomena tersebut tentu seolah membuat kita tidak percaya, bahkan terkadang muncul keraguan untuk kembali mempertanyakan kehadiran lukisan tersebut. “Bagaimana mungkin manusia purba bisa menggambar seperti ini?”. Namun lukisan tersebut adalah bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan untuk menciptakan sebuah karya seni. Hal ini diperjelas dengan beberapa riset arkeologi yang mampu menjawab umur lukisan prasejarah di beberapa situs di Indonesia. Salah satunya adalah lukisan yang ada di Leang Metanduno yang berusia 67.800 tahun yang lalu.
Keberadaan Lukisan prasejarah sepertinya bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk keajaiban dunia. Lukisan ini dapat bertahan dalam rentang waktu yang cukup lama dan bentuk yang dihasilkan cukup bervariasi. Sejauh ini, memang lukisan telah terlindungi secara alami di relung gua. Namun pesatnya industri eksploitatif misalnya industri pertambangan, belakangan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Dan tentu saja, hal itu kemungkinan besar juga akan mengancam keberadaan lukisan prasejarah.
Ekosistem Gambar Cadas & Pertambangan
Di beberapa tempat di belahan dunia ini, eksistensi lukisan prasejarah di bebatuan karst dibayangi oleh aktivitas pertambangan, seakan-akan mereka adalah entitas yang tidak terpisahkan. Aktivitas pertambangan yang juga kerap beroperasi di kawasan karst memberikan dampak yang begitu besar terhadap laju kerusakan gambar cadas.
Seperti yang dijelaskan oleh Juan Carlos Cañaveras dalam jurnalnya yang berjudul Deterioration Processes on Prehistoric Rock Art Induced byMining Activity (Arenaza Cave, N Spain), “Aktivitas pertambangan dan penggalian batu merupakan contoh proses yang disebabkan oleh manusia yang mampu mempercepat degradasi, bahkan menyebabkan kehancuran seni cadas di lingkungan gua”. Studi kasus yang dilakukan di Situs Gua Arenaza, Spanyol, mengungkap bahwa aktivitas pertambangan yang berlangsung di sekitar kawasan gua, baik melalui tambang terbuka (opencast quarry) maupun tambang bawah tanah (underground mining), telah menyebabkan kerusakan serius pada seni cadas. Kerusakan tersebut terjadi akibat perubahan pada kondisi geomorfologi dan sistem hidrologi kawsan karst, yang pada akhirnya memengaruhi kestabilan lingkungan gua serta mempercepat proses degradasi lukisan prasejarah.

Bagaimana Aktivitas Pertambangan dapat Merusak Gambar Cadas?
Terdapat tiga jenis utama proses kerusakan yang mempengaruhi batuan induk dan keberadaan lukisan prasejarah. Pertama, yaitu terjadi proses alami berupa memudar atau hilangnya lukisan akibat pengaruh langsung aliran air maupun hasil kondensasi pada permukaan dinding gua. Kedua, terbentuknya konkresi (endapan) gipsum yang mengangkat permukaan batu dan menyebapkan tonjolan pada bagian yang mengandung lukisan. Ketiga, terlepasnya lapisan atau serpihan tipis batuan yang menjadi media lukisan.

Proses pengelupasan lapisan batuan terjadi dalam dua tahap, yaitu berlangsung sebelum lukisan dibuat dan berkembang dalam tingkat yang relatif kecil (sebelum ada aktivitas pertambangan). Tahap kedua, terjadi setalah lukisan dibuat dan merupakan proses yang masih berlangsung hingga kini (setelah adanya aktivitas pertambangan). Tahap kedua inilah yang menyebabkan kerusakan serius dan bersifat permanen (tidak dapat dipulihkan) terhadap lukisan gua prasejarah. Selain itu, para peneliti juga mengamati terbentuknya lapisan kerak kristal yang berkaitan dengan kedua fase pengelupasan batuan tersebut.
Perbandingan kedua fase tersebut mempelihatkan dengan jelas bahwa pada fase sebelum adanya lukisan, medianya sebagian besar tersusun atas mineral kalsit dengan kandungan gipsum yang rendah (<6%). Sebaliknya, pada fase kedua (fase pengelupasan aktif) didominasi oleh mineral gipsum dengan kandungan kalsit dan aroganit yang lebih rendah (<3%). Perbedaan komposisi tersebut disebabkan oleh perubahan pola aliran serta karakteristik geokimia air karst, yang kemungkinan besar berkaitan dengan perubahan sistem drainase karst akibat kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan.

Selain itu, getaran kuat yang dihasilkan oleh peledakan di area tambang di sekitar gua menyebabkan jaringan rekahan alami pada batuan induk semakin melebar. Pelebaran jaringan rekahan batuan induk yang terjadi secara bersamaan dengan tekanan kristalisasi akibat pertumbuhan kerak gipsum menjadi faktor utama yang memicu kembali serta mempercepat proses kerusakan yang berlangsung di dalam gua.
Jadi, aktivitas pertambangan memiliki peranan yang sangat besar terhadap laju kerusakan pada lukisan prasejarah. Kemungkinan di beberapa tempat di Indonesia, dampak tersebut belum terlihat jelas, namun setiap proses laju kerusakan sedang berlangsung setiap saat dalam skala mikro yang saat ini tidak kita sadari.
Referensi:
Cañaveras, J. C., Muñoz-Cervera, M. C., & Sánchez-Moral, S. (2022). Deterioration processes on prehistoric rock art induced by mining activity (Arenaza Cave, N Spain). Geosciences, 12(8), 309.
