Cerita Dibalik Penemuan Perkakas Batu di Leang Panninge

Related Articles

Leang Panninge saat ini begitu populer dengan serangkaian penemuan warisan budaya yang berusia ribuan tahun silam. Penemuan benda prasejarah telah terungkap melalui serangkaian penelitian yang dilakukan oleh beberapa instansi, misalnya  Badan Riset dan Inovasi Nasional, Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin, Universitas Sains Malaysia,  Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, dan yang terakhir ialah proyek kolaborasi antara Griffith University, Universitas Hasanuddin, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Suasana teras gua di Leang Panninge
Doc. Muh. Alif, 2024

Tidak hanya itu, Leang Panninge kini menjadi salah satu destinasi wisata alam. Leang Panninge sering dimanfaatkan sebagai lokasi susur gua, river tubing, berkemah, dan berbagai pengalaman wisata lainnya berupa tawaran bagi wisatawan untuk pengalaman membajak kebun jagung, berburu, mencoba permainan tradisional, serta berbagai pengalaman menarik lainnya.

Penelitian intensif di Leang Panninge seolah membuka lorong waktu kehidupan prasejarah ribuan tahun silam. Hal itu dibuktikan dengan melimpahnya benda prasejarah berupa ribuan perkakas batu (Arkeolog biasa menyebutnya sebagaiArtefak Batu”), kumpulan tulang hewan, kerang, pecahan wadah tanah liat (tembikar), dan yang paling tersohor adalah rangka manusia berjenis kelamin perempuan berumur sekitar 17-18 tahun. Temuan tersebut diperkirakan terendap sekitar 7.300 tahun yang lalu.

Riset Terbaru di Leang Panninge

Penelitian terbaru oleh Suryatman, melalui artikel yang bertajuk “The evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the ‘Toalean’ technocomplex”, memperlihatkan sebuah data yang menarik tentang perkembangan perkakas batu “Artefak Batu” di Leang Panninge. Suryatman menguraikan tingkat perkembangan teknologi prasejarah mulai dari periode pleistosen hingga holosen. Jika dikonversi kemungkinan perkembangannya berada dalam rentang waktu sekitar 40.000 hingga periode yang relatif lebih muda yaitu sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Penelitian tersebut berhasil mengisi celah kekosongan penelitian yang sejauh ini cenderung lebih banyak menjelaskan perkakas batu yang identik dengan Budaya Toalean yang berkembang pada periode holosen sekitar 8.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Budaya Toalean dianggap sebagai kelompok masyarakat yang kreatif karena telah mampu memproduksi beberapa karakter perkakas batu yang terdiri dari mata panah (biasa disebut juga Maros Point) dan pisau mungil (yang biasa disebut Mikrolit).

Namun, hasil penelitian di Leang Panninge justru mengisi satu kekosongan data yang selama ini selalu dipertanyakan. Perkakas batu yang dianggap identik dengan Toalean, masih menjadi teka teki apakah kehadirannya merupakan sebuah perkembangan teknologi dari periode sebelumnya (Pleistosen)? atau memang merupakan sebuah inovasi teknologi dari periode holosen sebagaimana tren Budaya Toalean di Sulawesi. Sebelumnya pertanyaan tersebut agak sulit diungkap karena lapisan tanah pada beberapa objek budaya yang telah diteliti di Maros Pangkep kurang mendukung dari segi lapisan tanah dan terkadang tidak utuh. Akan tetapi melalui penelitian ini, teka-teki itu seolah membuka cakrawala baru sekaligus menjadi jembatan pengetahuan terkait perkembangan “Artefak Batu” di Sulawesi.

Perkembangan Perkakas Batu “Artefak Batu” di Leang Panninge dari Periode Pleistosen hingga Holosen

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa perkakas batu di Leang Panninge mengalami perkembangan sejak periode pleistosen (Sekitar 40.000 tahun yang lalu). Pada periode tersebut ciri “Artefak Batu” di Leang Panninge cenderung ditandai dengan bentuk perkakas batu yang lebih sederhana dan tidak memiliki bentuk yang khusus. Hal tersebut mengacu pada teknik pemangkasan yang tidak berpola dan lebih sering menggunakan batu yang berukuran besar. Adapun jenis perkakasnya disebut dengan Artefak Bipolar (jenis perkakas batu yang tidak memiliki pola pemangkasan dalam proses pembuatannnya) dan Cobble Core (jenis artefak yang berukuran besar karena memanfaatkan bahan batuan sebagai alat yang siap untuk digunakan).

Karakter bentuk Artefak Bipolar yang ditemukan pada periode Pleistosen di Leang Panninge
(Sumber; Suryatman dkk, 2026)
Karakter bentuk perkakas batu Cobble Core
(Sumber; Suryatman dkk, 2026)

Sementara itu pada periode holosen (Sekitar 10.000 tahun yang lalu), karakteristik perkakas batu yang muncul di Leang Panninge lebih jelas memperlihatkan karakter dan bentuk perkakas batu yang identik dengan Budaya Toalean. Pada periode tersebut proses pembuatan perkakas batu dianggap lebih terkonsep (Retouch Technology), sehingga perkakas batu yang dihasilkan memiliki bentuk yang khas seperti, mata panah (Maros Point), pisau mungil atau disebut juga dengan mikrolit, artefak batu layaknya gergaji mini yang diistilahkan sebagai Sawlettes, dan berbagai perkakas batu yang sekilas terlihat menyerupai alat pemotong dan penyerut.   

Variase temuan mata panah (Maros Point) di Leang Panninge
Sumber; Suryatman dkk, 2026
Tipe bentuk pisau mungil (Mikrolit) di Leang Panninge
Sumber; Suryatman dkk, 2026

Data tersebut tentunya memberikan informasi yang cukup penting tekait jenis dan bentuk perkakas batu yang terdapat di Leang Panninge. Selain itu, data tersebut juga memberikan gambaran terkait proses pembuatan, mulai dari pemilihan bahan hingga pada proses pembuatannnya.

Perkakas batu berupa gergaji mini (Sawlettes)
Sumber; Suryatman dkk, 2026

Dengan demikian, cara manusia prasejarah dalam memproduksi sebuah teknologi semakin menegaskan jika mereka cukup kreatif dan inovatif. Meskipun hal itu kemungkinan besar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, pola hidup, dan interaksinya dengan kelompok lain yang telah bermukim di Sulawesi.

Cerita Penemuan Perkakas Batu di Leang Panninge

Penemuan perkakas batu di Leang Panninge sebetulnya telah menjadi hal yang biasa saja karena begitu melimpah di sepanjang teras gua. Namun terkadang orang awam, masyarakat setempat, dan pengunjung tidak mengenali benda tersebut. Dengan demikian dapat dibayangkan begitu melimpahnya perkakas tersebut ketika diperoleh dari hasil penggalian atau ekskavasi arkeologi.

Cerita ini bermula ketika penulis bergabung dalam proyek penelitian yang berlangsung selama dua musim di Leang Panninge pada tahun 2023 dan 2024. Meskipun jauh sebelumnya, penelitian di Leang Panninge telah dilakukan sejak tahun 2014 dan yang paling terakhir pada tahun 2024.

Berbagai bentuk perkakas batu (Serpih) di Leang Panninge
Sumber; Suryatman dkk, 2026

Semenjak bergabung dalam proyek kerja sama antara Griffith University, Universitas Hasanuddin, dan Badan Riset Inovasi Nasional, Leang Panninge telah dikenal dengan beberapa publikasi artikel ilmiah. Beberapa artikel tersebut telah membahas tentang jejak hunian prasejarah di Leang Panninge yang ditandai dengan himpunan tulang fauna yang sekaligus menjadi tanda cara bertahan hidup kelompok manusia yang bermukim di Leang Panninge. Selain itu, publikasi lainnya yang cukup dikenal adalah penemuan rangka manusia yang diketahui memiliki pencampuran DNA dengan populasi Papua, Aborigin, dan Denisovan (Lihat disini).

Dua musim penggalian yang penulis ikuti di Leang Panninge, meninggalkan sebuah kisah yang menarik tentang perlakuan perkakas batu di lokasi tersebut. Mulai dari proses penggalian hingga proses pembersihan. Selama proses penggalian, “Artefak Batu” menjadi salah satu temuan yang cukup mendominasi. Serpihan demi serpihan mulai terungkap tatkala cetok dan kuas mulai mengupas setiap sedimen yang menutupi perkakas tersebut.

Proses penggalian (Ekskavasi) di Leang Panninge
Doc. Muh. Alif, 2024

Setiap serpihan mulai kami amati untuk melihat bentuk dan jenis bahan yang digunakan. Bagi yang bertugas melakukan penggalian, mereka ditantang untuk bisa mendapatkan sebanyak mungkin perkakas batu yang memiliki bentuk yang identik, seperti Maros Point, Mikrolit, dan berbagai bentuk perkakas batu yang khas. Dan apabila ditemukan, setiap dari kami yang akan merasa sangat senang ibarat mendapatkan sebuah emas.

Menemukan Maros point dan Mikrolit merupakan sebuah pencapaian yang luar bisa ketika sedang melakukan penggalian. Dua perkakas batu tersebut seringkali dianggap sebagai temuan yang spesial karena dianggap mewakili satu periode kehidupan kelompok manusia di Sulawesi (Toalean). Namun tidak dipungkiri kehadiran serpihan atau perkakas batu lainnya dalam satu area penggalian juga sangat penting untuk menjelaskan keterkaitan antara benda prasejarah yang terpendam di Leang Panninge.

Penemuan perkakas batu di Leang Panninge memiliki tahapan yang cukup panjang. Ketika melakukan penggalian, langkah pertama yang dilakukan adalah mengenali dan memastikan bahwa benda yang diperoleh adalah sebuah “Artefak Batu”. Biasanya cara yang dilakukan adalah membersihkan debu atau sisa sedimen yang melekat pada serpihan batuan. Cara pembersihan dilakukan dengan menggunakan kuas atau membasuh benda menggunakan air.  

Setelah itu, serpihan batuan yang diperoleh akan memperlihatkan sebuah kilapan dan jejak pemangkasan. Kilapan menjadi penanda yang cukup krusial karena biasanya bahan batuan yang digunakan dalam proses pembuatan perkakas batu adalah chert (salah satu jenis batuan yang kerap dijadikan sebagai bahan dasar dalam proses pembuatan “Artefak Batu”). Sementara itu jejak pemangkasan relatif menandakan proses pembuatan dan memungkinan adanya jejak pengunaan dari tiap benda tersebut.

Setelah memastikan bahwa benda yang ditemukan dalam penggalian merupakan “Artefak Batu”, setiap benda tersebut lalu diukur keletakannya menggunakan alat ukur total station (Alat ukur digital yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi). Selanjutnya benda tersebut kemudian dipindahkan dari area penggalian (Kotak gali) untuk kemudian di bungkus menggunakan kantongan yang telah dilengkapi label yang berisi informasi tentang riwayat penemuan benda tersebut (mulai dari urutan penemuan, informasi kedalaman, dan posisinya dalam sebuah lapisan).

Proses pengukuran perkakas batu menggunakan Total Station
Doc. Maros Project, 2024

Tidak berhenti sampai di situ, penanganan perkakas batu dilanjutkan dengan membersihkan setiap benda menggunakan air. Setiap serpihan dicuci lalu dikeringkan. Setelah itu, dilanjutkan dengan membungkus kembali benda tersebut, lalu disimpan pada kotak (container Box) yang telah disediakan.

Tahap pengeringan perkakas batu yang telah dibersihkan
Doc: Maros Project, 2024

Dari setiap tahapan tersebut, terdapat satu cerita yang menarik dan begitu berkesan. Perlakuan terhadap setiap perkakas batu secara tidak langsung mendekatkan penulis bahkan tim yang terlibat saat itu dengan teknologi yang begitu sangat berguna dalam kehidupan yang telah berlangsung ribuan tahun silam.

Sesekali penulis dan tim, mencoba untuk mengilustrasikan penggunaan “Artefak Batu” di Leang Panninge. Dengan sedikit candaan, kami terkadang berusaha untuk mengekspresikan cara penggunaan mata panah (Maros Point), pisau mungil (Mikrolit), dan berbagai jenis perkakas batu lainnya yang ditemukan di Leang Panninge.

Penanganan perkakas batu, mulai dari tahap pencucian, pemberian label, pengeringan, dan tahap packing yang kemudian diselingi dengan perbincangan hangat antar anggota tim
Doc; Maros Project, 2024

Gelagat itu tentu tidak muncul secara spontan, melainkan kedekatan kami dan perkakas batu tersebut justru muncul karena kami mulai memahami bahwa benda tersebut sangat berguna dalam kehidupan manusia dahulu. Bahkan, sebelum mengalami lonjakan teknologi modern yang kita kenal saat ini.

Maka dari itu, kontak langsung dengan benda yang dianggap sebagai warisan budaya, menjadi salah satu cara yang cukup efektif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya. Apalagi ketika berbicara mengenai benda prasejarah, pengetahuan dan memori kolektif tentang benda tersebut sepertinya telah terputus. Dengan demikian, perlu sebuah cara agar keterikatan dan pemahaman terkait benda tersebut tetap terhubung, misalnya dengan melalui perjumpaan, pengamatan langsung, serta adanya kontak langsung (Immersive Experience) antara masyarakat dan warisan budaya.

Bibliography

Suryatman, Duli, A., McGahan, D., Saiful, A. M., Burhan, B., Sardi, R., . . . Sura, M. (2026). The evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the ‘Toalean’ technocomplex. Archaeological and Anthropological Science.

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Popular stories